BANJAR, REPORTASE9.ID – Sebanyak 151 pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten Banjar terdampak banjir. Kerugian sementara ditaksir mencapai Rp4,46 miliar, dengan komoditas ikan nila yang dibudidayakan melalui sistem Keramba Jala Apung (KJA) menjadi yang paling banyak terdampak.
Tingginya debit air sungai menyebabkan luapan yang merusak keramba dan membuat ikan lepas terbawa arus. Dampak banjir dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari daerah hulu seperti Karang Intan hingga kawasan Martapura Barat.
Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, Apriyani Mindra Waspodo mengatakan, kerusakan keramba menjadi faktor utama terjadinya kerugian pada pembudidaya.
“Luapan air sungai membuat banyak ikan keluar dari keramba. Kondisi ini terjadi hampir merata di wilayah terdampak banjir,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (26/01/2026).
Ia mengungkapkan, sebelum banjir terjadi pihaknya telah menyampaikan peringatan dini kepada para pembudidaya agar meningkatkan kewaspadaan.
Namun, sebagian pembudidaya tetap menjalankan usaha karena terikat kerja sama dengan penyedia pakan maupun target pemasaran.
“Ada pembudidaya yang tidak bisa menghentikan kegiatan karena memiliki kewajiban kontrak. Meski risikonya besar, usaha tetap dijalankan,” jelasnya.
Saat ini, DKPP Kabupaten Banjar masih melakukan pendataan lanjutan di lapangan. Angka kerugian yang tercatat disebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari pembudidaya lain yang belum terdata.
“Kami mengimbau bagi pembudidaya yang terdampak namun belum masuk data agar segera melapor secara mandiri,” katanya.
Data kerugian tersebut nantinya akan dijadikan dasar pengajuan bantuan kepada pimpinan daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, serta Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin.
“Harapannya, bantuan khususnya berupa bibit ikan dapat segera disalurkan kepada pembudidaya yang terdampak banjir,” pungkasnya.










Comments