BANJAR, REPORTASE9.ID – Para pembudidaya ikan di Kabupaten Banjar yang memanfaatkan air dari saluran irigasi diminta mulai bersiap menghadapi rencana pengeringan saluran primer yang dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Pengeringan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembersihan jaringan irigasi. Kondisi ini berpotensi memengaruhi aktivitas budidaya ikan yang bergantung pada aliran air dari saluran tersebut.
Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar, Apriyan Mindar Waspodo mengatakan, pembudidaya perlu melakukan penyesuaian sejak dini agar tidak mengalami kerugian saat pengeringan dilakukan.
“Karena akan ada pengeringan total saluran primer pada September hingga Oktober, kami mengimbau pembudidaya yang menggunakan air irigasi agar bisa menyesuaikan kegiatan budidayanya,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (09/03/2026).
Salah satu langkah yang disarankan adalah mengatur waktu panen lebih awal bagi ikan yang sudah mencapai ukuran konsumsi. Dengan begitu, pembudidaya dapat menghindari risiko berkurangnya pasokan air saat pembersihan saluran berlangsung.
Selain itu, pembudidaya juga diminta menyiapkan cadangan air atau tandon sebagai sumber air alternatif untuk menjaga kondisi kolam tetap stabil.
Menurutnya, kebutuhan air sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan budidaya, terutama bagi jenis ikan tertentu.
Ia menjelaskan, komoditas seperti ikan nila dan ikan bawal membutuhkan aliran air yang stabil untuk mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Berbeda dengan ikan patin yang relatif lebih tahan meski tanpa aliran air yang terus-menerus.
“Karena itu pembudidaya perlu menyiapkan penampungan air agar pasokan tetap tersedia selama masa pengeringan,” jelasnya.
DKPP Banjar juga mengimbau pembudidaya untuk melakukan sejumlah langkah antisipasi lainnya, seperti mengatur kepadatan tebar ikan, melakukan panen parsial bagi ikan yang siap jual, serta memantau kualitas air kolam secara berkala.
Selain itu, pembudidaya yang memanfaatkan air irigasi juga diminta memperhatikan jadwal penebaran benih ikan agar tidak berdekatan dengan periode pengeringan saluran. Hal ini penting agar proses pembesaran ikan tidak terganggu akibat keterbatasan pasokan air.
Pembudidaya juga disarankan menyiapkan kolam atau bak cadangan sebagai media pemeliharaan sementara apabila diperlukan selama masa pengeringan berlangsung.
DKPP Banjar juga mengingatkan agar para pembudidaya dapat berkoordinasi dengan Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) di wilayah masing-masing ataupun langsung dengan pihak dinas apabila menghadapi kendala di lapangan.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi dampak terhadap kegiatan budidaya selama proses pengeringan saluran irigasi berlangsung.
Untuk memastikan informasi ini diterima para pembudidaya, DKPP Banjar akan menyosialisasikannya melalui berbagai saluran, termasuk melalui penyuluh perikanan, pemerintah desa, serta media komunikasi yang biasa digunakan para pembudidaya.
“Harapannya para pembudidaya bisa mengetahui lebih awal sehingga dapat mempersiapkan langkah-langkah antisipasi,” tutupnya.










Comments