Kabupaten Banjar

Banjar Catat Tren Positif Produksi Padi Meski Sektor Pertanian Hadapi Tantangan

0

BANJAR, REPORTASE9.ID – Sektor pertanian Kabupaten Banjar memasuki 2026 dengan sejumlah capaian positif, khususnya di bidang produksi padi, meski masih dihadapkan pada berbagai tantangan.

Kepala Dinas Pertanian Banjar, Warsita menyebutkan, tekanan kompleks muncul dari faktor alam hingga keterbatasan sumber daya manusia.

“Perubahan iklim, regenerasi petani yang lambat, keterbatasan SDM, dan kebutuhan modernisasi masih menjadi tantangan utama. Ditambah penyuluh pertanian yang kini dialihkan menjadi pegawai pusat, tentu berdampak pada pelayanan di tingkat petani,” ujarnya belum lama kemarin.

Meski begitu, produksi padi di Kabupaten Banjar menunjukkan tren menggembirakan. Dari data yang ada, produksi gabah kering giling meningkat dari 153.538 ton pada 2024 menjadi 166.001 ton pada 2025. Prestasi ini menempatkan Banjar sebagai produsen padi terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah Kabupaten Barito Kuala.

Pemerintah daerah terus mendorong perluasan areal tanam melalui program cetak sawah. Dari target 2.791,97 hektare di delapan kecamatan, realisasi fisik saat ini mencapai 1.075,78 hektare. Namun, curah hujan tinggi menyebabkan beberapa lahan tergenang sehingga pengerjaan alat berat tertunda. Pemda menargetkan pengerjaan lanjutan dimulai kembali pada Maret 2026.

Selain padi, pengembangan komoditas hortikultura dan perkebunan juga menjadi fokus. Cabai, bawang merah, pisang, jeruk, durian, dan kopi mulai dibina untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Khusus kopi, permintaan tinggi masih mengandalkan pasokan luar daerah karena produksi lokal terbatas.

Di sektor peternakan, pemerintah mendorong program inseminasi buatan pada sapi dan peningkatan populasi itik sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan protein hewani.

Langkah strategis lain mencakup optimalisasi lahan pertanian, penyaluran bantuan sarana produksi dan alat mesin pertanian, pengembangan infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), serta mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Dengan berbagai langkah ini, Pemkab Banjar optimistis sektor pertanian tetap berkembang sekaligus mempertahankan peran pentingnya sebagai penopang produksi pangan di Kalimantan Selatan.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like