Nasional

Sempat Timbulkan Kontroversi, Purbaya Klarifikasi Isu Pajak Selat Malaka

0

NASIONAL, REPORTASE9.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berikan klarifikasi pernyataannya terkait ide pengenaan pajak terhadap kapal yang melintasi perairan Selat Malaka.

Dalam rilis pada Sabtu (25/4/2026), Purbaya mengatakan apa yang disampaikannya itu bukan pernyataan yang serius.

“Jadi itu konteksnya bukan konteks serius. Kita belum pernah merencanakan (informasi itu) untuk mengutip. Kan saya dulu bekas Deputi Menteri bagian Menko Maritim yang dulu maritim dan energi. Jadi saya tahu betul peraturannya,” katanya dalam Media Briefing di Gedung BPPK Purnawarman Campus, Jakarta pada Jumat (24/4/2026).

Sebelumnya, saat sambutan di acara Simposium PT SMI di Jakarta pada Rabu (22/4/2026), Purbaya sempat berkelakar terkait rencana pemajakan kapal yang lewat di selat Malaka yang mendapat respons penolakan dari Malaysia dan Singapura.

Menkeu menegaskan Indonesia sebagai pihak yang telah meratifikasi Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS), sehingga tidak memiliki kewenangan untuk memungut biaya dari kapal yang melintas, karena terdapat prinsip freedom of navigation yang harus dihormati.

Purbaya mengatakan pemerintah membuka peluang untuk memperoleh manfaat ekonomi melalui penyediaan berbagai layanan atau service bagi kapal yang melintas, karena skema tersebut sejalan dengan ketentuan internasional selama tidak melanggar prinsip kebebasan navigasi.

“Jadi misalnya di Banten, selat Banten, kita buat service macam-macam dulu. Antara lain pemanduan, kalau memang ada kapal yang nggak jelas itu, atau service lain, separate service, anak buah kapal yang mau diganti. Terus bahkan itu di freedom of navigation itu kita diwajibkan untuk mengizinkan kapal-kapal yang lewat di ZEE kita. Bahkan kita harus menjaga keamanan di sana seperti itu. Jadi kalau (informasi yang) serius itu,” ujarnya.

Purbaya mengungkapkan pihaknya juga berencana mengembangkan layanan serupa di sejumlah wilayah, termasuk di sekitar Selat Sunda dan Selat Lombok, yang merupakan jalur pelayaran internasional.

“Di situ nanti dioptimalkan service yang bisa diberikan oleh pemerintah untuk mendapatkan uang tambahan,” tutur Purbaya.

Dalam kesempatan yang sama, Menkeu juga mengungkapkan alasan mencopot Dirjen Anggaran Luky Alfirman, serta Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu.

“Rotasi eselon I, itu hanya proses biasa. Biasa kita berapa tahun puter, berapa tahun puter, jadi nggak ada yang istimewa di situ,” kata Purbaya.

Saat ditanya apakah pencopotan dua dirjen tersebut terkait sindirannya dalam beberapa hari terakhir, ia tidak menampik.

Sebelumnya Purbaya menyinggung ada pegawai yang mengaku siap menjalankan arahan, tetapi pekerjaan tidak kunjung dilakukan hingga berbulan-bulan.

“Iya dan tidak. Iya ada sedikit, tetapi nggak itu saja,” jelasnya.

Purbaya juga menyinggung ‘noise’ yang selalu beredar ke luar yang asalnya dari internal Kemenkeu, seperti APBN yang akan habis dalam dua minggu jika harga BBM tidak naik, hingga isu Menteri Keuangan bisa mengacaukan investor.

“Ada informasi yang keluar bahwa Menteri Keuangannya tertutup, nggak bisa bahasa Inggris kali dan kalau bisa jangan dibawa ketemu investor karena dia akan mengacaukan. Itu dari internal, jadi kita rapikan itu sedikit,” tegasnya.

Purbaya memastikan akan membersihkan gangguan-gangguan tersebut dan Ia sendiri telah menunjuk pejabat sementara alias Pelaksana Harian (Plh) menyusul dicopotnya dua pejabat eselon I Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tersebut.

Dua pejabat yang ditunjuk Menkeu sebagai Plh Dirjen Anggaran yakni Sudarto, yang menjabat Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara.

Kemudian sebagai Plh Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal, yakni Ferry Ardianto, yang sebelumnya menjabat Direktur Strategi Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi. (Sumber : infopublik.id)

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Nasional