Nasional

Tak hanya Slogan, Prabowo Sebut Pancasila Pedoman dalam Membangun Bangsa

0

NASIONAL, REPORTASE9.ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tegaskan Pancasila tidak boleh berhenti sebagai dokumen sejarah atau slogan yang diucapkan dalam upacara kenegaraan.

Di tengah tantangan ekonomi nasional dan ketidakpastian global, ia menyebut Pancasila harus menjadi pedoman nyata dalam membangun bangsa, terutama untuk memastikan kekayaan Indonesia dikelola sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Hal itu disampaikan Presiden dalam pidato Peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin (1/6/2026) yang mengangkat tema “Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia”.

Turut hadir dalam upacara peringatan ini, jajaran tokoh bangsa dan pejabat tinggi negara, di antaranya Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah BPIP, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para mantan Wakil Presiden seperti Jusuf Kalla dan Ma’ruf Amin, serta para pimpinan lembaga tinggi negara seperti MPR, DPR, DPD, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Menurut Prabowo, tema Hari Lahir Pancasila tersebut memiliki makna penting di tengah dunia yang semakin terpecah oleh pertikaian, rivalitas geopolitik, perang dagang, dan ketidakpastian ekonomi. Dalam situasi itu, Indonesia memiliki pegangan kokoh, yakni Pancasila.

“Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah. Pancasila juga tidak boleh sekadar slogan yang kita ucapkan dalam setiap upacara,” ujar Presiden dalam amanatnya di halaman Gedung Pancasila Jakarta.

Pancasila lahir dari sejarah, pengalaman, budaya, dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila menjadi konsensus agung yang memungkinkan bangsa dengan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya untuk tetap hidup sebagai satu bangsa.

Prabowo juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam memastikan pembangunan ekonomi berjalan sesuai nilai-nilai Pancasila. Ia mengakui ekonomi Indonesia telah tumbuh selama beberapa dasawarsa terakhir. Namun, pertumbuhan itu harus dipastikan benar-benar merata dan dirasakan seluruh rakyat.

Presiden juga menyinggung besarnya kekayaan sumber daya alam Indonesia, mulai dari tembaga, timah, emas, logam tanah jarang, kelapa sawit, batu bara, nikel, hingga berbagai komoditas pertanian. Meski demikian, ia menilai terlalu lama kekayaan tersebut belum sepenuhnya memberi manfaat optimal bagi kemakmuran rakyat.

“Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” kata Prabowo.

Atas dasar itu, Presiden menyebut tugas sejarah pemerintah saat ini adalah melakukan transformasi bangsa, terutama transformasi ekonomi nasional. Transformasi itu diarahkan dari ekonomi yang belum sepenuhnya berlandaskan Pancasila menuju ekonomi yang sungguh-sungguh berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Presiden, ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang religius, berkemanusiaan, memperkuat persatuan nasional, berpihak pada kepentingan rakyat, egaliter, kerakyatan, serta berkeadilan sosial. Kekayaan alam, kata dia, bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan amanah Tuhan yang harus dikelola secara bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan generasi mendatang.

Prabowo menekankan, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik. Pembangunan harus menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat, termasuk anak-anak dari keluarga miskin, petani, nelayan, pekerja, pelaku usaha kecil, koperasi, dan masyarakat desa.

Dalam konteks itu, pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi sumber daya alam, ketahanan pangan nasional, koperasi, ekonomi desa, pendidikan, kesehatan, serta pembangunan manusia. Presiden juga menegaskan pentingnya memperbaiki tata kelola agar kekayaan bangsa tidak bocor dan tidak terus mengalir ke luar negeri.

Prabowo mengingatkan, transformasi besar tidak akan berjalan mudah. Pemerintah, kata dia, akan menghadapi berbagai rintangan, termasuk perlawanan dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh praktik korupsi, penyelundupan, dan kegiatan ekonomi ilegal.

Namun, mantan Pangkostrad ini menegaskan bangsa yang besar harus berani mengambil keputusan yang benar, meskipun sulit. Indonesia, katanya, tidak boleh mewariskan kemudahan jangka pendek dengan mengorbankan masa depan anak cucu.

“Tidak ada negara yang merdeka tanpa kemakmuran. Kita tidak mau jadi bangsa yang tergantung pada bangsa lain,” ujarnya.

Prabowo juga mengingatkan pesan Bung Karno agar bangsa Indonesia berani berdiri di atas kaki sendiri. Menurutnya, kemandirian merupakan inti dari negara yang berdaulat.

Presiden menyebut Pancasila telah mempersatukan Indonesia selama 81 tahun. Ia meyakini, jika Pancasila dijalankan secara sungguh-sungguh dalam bidang politik, hukum, sosial, budaya, dan terutama ekonomi, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara maju dan makmur, tetapi juga bangsa yang dihormati dunia.

“Bangsa yang kuat karena persatuannya. Bangsa yang makmur karena keadilannya. Bangsa yang besar karena kemanusiaannya,” pungkasnya. (Sumber : kemenag.go.id)

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Nasional