InfrastrukturTNI - POLRI

Empat Jembatan Dibangun Kodim 1006/Banjar, Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga Diperkuat

0

BANJAR, REPORTASE9.ID – Upaya memperluas akses masyarakat melalui pembangunan infrastruktur terus dilakukan Kodim 1006/Banjar. Melalui program Jembatan Garuda, sebanyak empat jembatan dibangun di sejumlah titik di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.

Empat jembatan tersebut memiliki karakteristik dan tingkat pengerjaan yang berbeda. Rinciannya, satu jembatan gantung berada di Pengaron, satu jembatan rangka di Guntung Manggis, Banjarbaru, serta dua jembatan beton masing-masing di Kiram dan Tatah Bangkal, Kabupaten Banjar.

Dandim 1006/Banjar, Letkol Inf. Bambang Prasetyo Prabujaya mengatakan, meski dikerjakan dalam waktu relatif cepat, pembangunan tetap memperhatikan kondisi teknis di setiap lokasi.

“Untuk jembatan rangka di Guntung Manggis kita kerjakan sekitar 16 hari. Sedangkan dua jembatan beton di Tatah Bangkal dan Kiram waktunya kurang lebih 21 hari,” ujarnya, Kamis (13/08/2026) malam.

Berbeda dengan tiga jembatan lainnya, pembangunan jembatan gantung di Pengaron memerlukan waktu sekitar satu setengah bulan. Jembatan dengan panjang kurang lebih 25 meter itu memiliki tantangan teknis yang lebih kompleks sehingga proses pengerjaannya membutuhkan perhitungan dan pengawasan secara cermat.

Menurut Bambang, pembangunan jembatan gantung tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kesalahan dalam perhitungan konstruksi dapat berakibat fatal, sehingga pihaknya menggandeng tim teknis dan tenaga ahli sipil.

“Jembatan gantung ini tingkat kesulitan teknisnya cukup tinggi. Jadi tidak boleh asal menghitung. Kita juga melibatkan tim teknis dan ahli sipil untuk memastikan pembangunannya benar-benar aman,” jelasnya.

Kebutuhan pembangunan jembatan di Pengaron sendiri berangkat dari kondisi akses masyarakat yang selama ini belum memadai. Sebelum adanya jembatan baru, warga masih menggunakan jembatan kayu yang kondisinya terbatas dan sering mengalami kerusakan saat banjir.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi warga dari sejumlah desa. Bahkan, anak-anak yang hendak bersekolah harus menyeberangi sungai menggunakan rakit kecil ketika akses jembatan tidak dapat dilalui.

“Setiap kali banjir datang, jembatan tersebut rusak. Anak-anak yang ingin sekolah terpaksa menggunakan rakit untuk menyeberang. Kondisi itulah yang menjadi salah satu alasan jembatan ini kita masukkan untuk dibangun,” ungkap Bambang.

Ia menyebut pembangunan Jembatan Garuda tidak semata-mata mengejar target penyelesaian. Keselamatan pengguna menjadi pertimbangan utama, khususnya pada jembatan yang memiliki konstruksi dan tantangan teknis tertentu.

Karena itu, keterlibatan tenaga ahli diperlukan untuk memastikan setiap pembangunan sesuai dengan kebutuhan serta aman digunakan oleh masyarakat.

Selain pembangunan fisik, Bambang berharap masyarakat turut memiliki kepedulian terhadap keberadaan jembatan tersebut. Perawatan secara bersama-sama dinilai penting agar infrastruktur yang telah dibangun dapat bertahan dan memberikan manfaat dalam waktu panjang.

“Pesan kami kepada masyarakat, jembatan ini harus sama-sama dijaga. Selain dirawat, tentunya fasilitas ini juga harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan warga,” pesannya.

Bambang menambahkan, program Jembatan Garuda menjadi salah satu bentuk percepatan dalam menjawab kebutuhan infrastruktur masyarakat. Terlebih, masih terdapat wilayah yang membutuhkan akses penghubung secara segera dan tidak dapat menunggu proses pembangunan yang panjang.

Ia menilai, kehadiran TNI dalam pembangunan tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat realisasi kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Jangan sampai anak-anak yang sudah siap berangkat sekolah harus menyeberang dan tiba dalam kondisi basah. Karena itu, kebutuhan seperti ini harus kita jawab dengan pembangunan yang cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like