REPORTASE9.ID – Bencana banjir yang kembali mengepung Kalimantan Selatan bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan sebuah ujian moral bagi mereka yang memegang tampuk kuasa. Di saat ribuan warga harus berjibaku dengan rendaman air, kehilangan harta benda, hingga ancaman keselamatan nyawa, sangatlah menyedihkan jika panggung penderitaan ini justru dijadikan komoditas pencitraan.
Sudah menjadi rahasia umum, setiap kali air meninggi, kamera-kamera mulai membidik. Kita melihat spanduk wajah tokoh-tokoh bertebaran di paket sembako, atau rombongan pejabat yang datang hanya untuk sekadar berpose di atas perahu karet demi konten media sosial.
Pertanyaannya: sejauh mana seremonial itu mampu menyurutkan air atau mencegah banjir datang kembali tahun depan?
Rakyat tidak butuh pahlawan kesiangan yang hadir hanya saat lampu kamera menyala. Yang dibutuhkan adalah kehadiran negara dalam bentuk kebijakan nyata.
Pertama, keberanian untuk mengevaluasi tata ruang dan perizinan industri ekstraktif yang menggerus daya serap alam kita. Kedua, percepatan pembangunan infrastruktur mitigasi yang bukan sekadar proyek fisik, melainkan solusi terintegrasi dari hulu ke hilir. Ketiga, sistem peringatan dini yang mampu menyelamatkan warga sebelum air merendam merusak harta benda ataupun rumah-rumahnya.
Menjadikan bencana sebagai ladang pencitraan adalah bentuk ketidakpekaan nurani. Itu adalah tindakan yang meremehkan kecerdasan rakyat. Masyarakat Kalsel sudah cukup kenyang dengan janji-janji manis saat kampanye dan bantuan-bantuan simbolis saat musibah. Yang mereka tuntut sekarang adalah komitmen jangka panjang agar anak cucu mereka tidak lagi harus mewarisi “tradisi” mengungsi setiap musim penghujan tiba.
Mari kita sepakati satu hal: kemanusiaan harus diletakkan jauh di atas kepentingan elektoral. Biarkan bantuan mengalir tanpa embel-embel wajah dan nama besar. Fokuslah pada kerja nyata yang substansial, bukan sekadar memoles citra di atas genangan air yang masih merendam asa warga.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak akan mengingat siapa yang paling banyak tampil di baliho bantuan, tapi mereka akan mengenang siapa yang benar-benar bekerja memastikan tanah mereka tetap kering dan aman untuk ditinggali.
Tulisan ini kami buat mewakili keresahan para narasumber serta pembaca setia reportase9.id yang terdampak banjir di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, kami membuka ruang sebesar-sebesarnya kepada seluruh masyarakat terdampak ataupun para wakil rakyat untuk berdiskusi baik secara langsung, maupun melalui pesan sosial media instagram: @reportase9_official
Kami bukan merasa paling tahu atau paling bisa, kami hanya menjalankan semangat visi dan misi media reportase9.id yakni “Spirit of Indonesian Voice”










Comments