EkonomiNasional

Ekonom Sebut Hambatan Logistik Pada Momentum Lebaran Picu Tekanan Harga

0

NASIONAL, REPORTASE9.ID – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, tekanan harga pangan mulai meningkat di sejumlah daerah, namun kondisi ini dinilai bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan, melainkan gangguan distribusi yang berpotensi memicu kenaikan harga jika tidak segera diantisipasi.

Dalam sepekan terakhir, sejumlah komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, telur, dan daging ayam menunjukkan tren kenaikan.

Di sisi lain, disparitas harga antarwilayah juga semakin melebar, mengindikasikan tantangan pada sistem logistik nasional dalam mendistribusikan pasokan secara merata.

Dalam rilis pada Sabtu (21/3/2026), Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai Indonesia saat ini memasuki fase krusial menjelang Lebaran, ketika lonjakan mobilitas masyarakat berpotensi mengganggu kelancaran distribusi barang.

“Ini bukan soal kekurangan pangan, tetapi apakah pasokan bisa sampai tepat waktu di lokasi yang membutuhkan. Saat arus mudik memadat, distribusi ikut tersendat. Di situlah harga mulai naik, bukan karena kelangkaan, tetapi karena hambatan distribusi,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).

Fakhrul menjelaskan arus mudik yang terjadi lebih awal dari biasanya turut menggeser pola permintaan secara cepat dari kota besar ke daerah tujuan.

Kondisi ini meningkatkan aktivitas ekonomi di daerah, namun juga menekan jalur distribusi akibat kepadatan lalu lintas, sehingga berisiko menimbulkan bottleneck logistik.

Selain faktor distribusi, perilaku pasar juga menjadi variabel penting dan ekspektasi kenaikan harga di tingkat pelaku usaha berpotensi mempercepat lonjakan harga, bahkan sebelum terjadi gangguan pasokan secara nyata.

“Ketika pelaku pasar memperkirakan harga akan naik, maka penyesuaian harga bisa terjadi lebih awal. Ini yang perlu diwaspadai, karena ekspektasi bisa mendorong kenaikan harga lebih cepat dari kondisi riil,” jelasnya.

Dari sisi pelaku usaha, respons mulai terlihat melalui peningkatan stok dan penyesuaian distribusi, namun ketidakpastian biaya logistik serta potensi keterlambatan pengiriman menjadi tantangan, khususnya bagi sektor ritel dan UMKM yang bergantung pada pasokan harian.

Dalam konteks tersebut, kebijakan pemerintah dinilai perlu difokuskan pada kelancaran distribusi, bukan intervensi harga yang berlebihan. Langkah yang tidak terukur berisiko menimbulkan distorsi baru dalam mekanisme pasar.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah memastikan distribusi tetap berjalan lancar. Jangan sampai kebijakan yang terlalu agresif justru memperburuk situasi,” tegasnya.

Fakhrul menambahkan, momentum Lebaran seharusnya menjadi penggerak ekonomi domestik, karena itu menjaga kelancaran distribusi menjadi kunci agar lonjakan konsumsi tidak justru menimbulkan tekanan baru.

“Kalau distribusi terganggu, maka yang macet bukan hanya jalan, tetapi juga perputaran ekonomi,” pungkasnya.

Ke depan, penguatan koordinasi lintas sektor, penetapan jalur distribusi prioritas, serta transparansi informasi harga menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas.

Dengan demikian, momentum Ramadan dan Idulfitri dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (Sumber : infopublik.id)

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Ekonomi