BANJAR, REPORTASE9.ID – Pemukulan bedug oleh Wakil Bupati Banjar bersama unsur Forkopimda dan jajaran terkait menandai dimulainya Grand Final Festival Becatuk Dauh Kabupaten Banjar Tahun 2026 di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura, Rabu (04/03/2026) malam.
Dentuman awal itu seolah menjadi aba-aba bagi sembilan grup finalis untuk menampilkan performa terbaiknya. Suasana alun-alun pun berubah semarak, dipenuhi tepuk tangan dan sorakan penonton yang memberi dukungan kepada masing-masing jagoannya.
Setiap grup menghadirkan warna tersendiri melalui kekompakan ritme, variasi tempo, hingga ekspresi panggung yang matang. Tidak hanya soal kekuatan pukulan, para finalis juga dinilai dari harmonisasi bunyi, kreativitas aransemen, serta penampilan busana yang merepresentasikan identitas budaya Banjar.
Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi becatuk dauh agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
“Ini bukan sekadar perlombaan, tetapi komitmen kita merawat warisan leluhur. Dauh punya nilai sejarah dan religius yang tidak boleh hilang,” ujarnya.
Ia menambahkan, dahulu suara dauh menjadi penanda waktu sahur, imsak, dan berbuka puasa sebelum hadirnya pengeras suara. Tradisi itu juga menjadi sarana syiar yang mempererat kebersamaan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata H Irwan Jaya menjelaskan, grand final merupakan lanjutan dari babak penyisihan yang diikuti 21 grup pada 10 dan 11 Februari 2026. Dari jumlah tersebut, sembilan grup berhasil melaju ke malam puncak.
Para finalis memperebutkan sembilan kategori juara, yakni Juara I, II, III, Harapan I, II, III, Juara Favorit, Juara Pelestari, dan Juara Busana Terbaik.
Ke depan, Disbudporapar berencana meningkatkan skala festival ke tingkat Banjarbakula bahkan provinsi, dengan harapan tradisi becatuk dauh semakin dikenal luas dan diminati generasi muda.










Comments