Kota Banjarbaru

Musorkot KONI Banjarbaru 2026 Tidak Sehat, Beberapa Pengurus Cabor Merasa Ada Yang Janggal

0
Beberapa Pengurus Cabang Olahraga saat nyatakan WO dari Musorkot KONI Banjarbaru 2026 (Foto : Azmi/R9)

BANJARBARU,REPORTASE9.ID – Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Banjarbaru tahun 2026, mendapat penolakan dari sejumlah cabang olahraga (cabor) yang memilih Walk Out (WO).

Sebelum terjadinya aksi WO, forum tersebut diwarnai berbagai interupsi yang menyoroti proses penjaringan dan penyaringan bakal calon Ketua KONI Banjarbaru masa bakti 2026-2030 yang dinilai terlalu singkat. 

Dimana tahapan proses Penjaringan dan Penyaringan hanya berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 25-27 Maret 2026.

Selain itu, sejumlah cabor juga menilai minimnya sosialisasi dari panitia kepada seluruh anggota menjadi persoalan serius. Mereka merasa tidak mendapatkan informasi yang cukup terkait tahapan dan mekanisme Musorkot.

Enam cabor yang memilih walk out tersebut yakni Tenis Meja, Paralayang, PBVSI, PSSI, Balap Sepeda, dan Aero Sport. Mereka keluar dari ruang sidang setelah menyampaikan protes, namun merasa tidak mendapatkan tanggapan memadai dari Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP).

Ketua Harian PBVSI Banjarbaru Andi Prasetyo  mengatakan pihaknya memilih sikap WO. karena adanya dugaan diskriminasi terhadap cabang olahraga bola voli. Hal itu terkait kegiatan buka bersama yang dikemas dalam rapat kerja pada 18 Maret 2026.

“Kami selaku pengurus tidak menerima undangan, baik melalui grup WhatsApp maupun secara pribadi. Ini kami anggap bentuk diskriminasi terhadap cabor bola voli,” ujarnya pada Sabtu (28/3/2026).

Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan legalitas pelaksanaan Musorkot. Sedangkan masa kepengurusan sebelumnya telah berakhir tanggal 19 Maret 2026. Sementara dokumen pelaksanaan kegiatan yang ditandatangani oleh Ketua KONI tertera tanggal 20 Maret 2026 sehingga hal ini dinilai tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

“Kami menganggap legalitasnya tidak sah atau cacat hukum. Karena itu kami keberatan jika Musorkot tetap dilaksanakan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan kehadiran pihaknya dalam forum tersebut bukan untuk mendukung calon tertentu, melainkan menjalankan mandat organisasi dalam Musorkot.

“Tadi kami melihat absensi 37 yang hadir, kehadiran tersebut dianggap mendukung calon tunggal. Sehingga itu janggal bagi kami, ketika ingin mengikuti proses musyawarah ini ternyata tidak sesuai harapan. Dengan tidak berjalan baik forum ini, bagaimana kita mau mencapai prestasi yang baik,” tambahnya.

Selain itu dari perwakilan PSSI Banjarbaru Hairil Anwar yang juga memilih WO mengatakan, dari proses berjalannya forum Musorkot ini bisa dilihat terkesan tergesa-gesa.

“Jadi kami mengambil sikap untuk WO, karena sedari awal proses ini tidak sesuai logika kami,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Perwakilan Pengurus Cabor Paralayang yang juga merasa jalannya Musorkot ini tidak sehat. Kalau difikir secara logika dengan waktu masa pendaftaran untuk maju sebagai Calon Ketua KONI Banjarbaru dibuka tanggal 25 Maret dan sudah ditutup tanggal 27 Maret.

“Kami mendapatkan informasi penjaringan untuk Calon Ketua KONI di tanggal itu pukul 15.00 wita, dan setelah keesokan harinya ditutup. Jadi sebenarnya tidak sampai 2 hari tapi 1 setengah hari. Itu logikanya dimana?,”ungkapnya.

Sejumlah cabor pun sepakat meminta agar pelaksanaan Musorkot ditunda hingga seluruh tahapan dinilai lengkap dan transparan.

Mereka juga mendesak agar proses Musorkot diambil alih oleh KONI Provinsi guna menjamin netralitas dan keabsahan jalannya forum.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like