Daerah

Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Kultural di Tengah Gelombang Globalisasi

0
Muhammad HS, Aktivis Muda Kalimantan Selatan (Foto : Istimewa)

BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang peristiwa bersejarah lahirnya Sumpah Pemuda—momen yang menegaskan tekad kolektif generasi muda untuk bersatu demi tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.

Namun, menurut aktivis muda Kalimantan Selatan, Muhammad HS, semangat Sumpah Pemuda kini menghadapi bentuk tantangan baru di era globalisasi digital. Jika dulu penjajahan datang dalam bentuk kolonialisme fisik, maka kini bentuknya hadir melalui algoritma media sosial, budaya populer global, dan derasnya arus informasi yang berpotensi mengikis nilai-nilai lokal.

“Medan juang pemuda hari ini bukan lagi di medan pertempuran, melainkan di ruang-ruang virtual tempat persepsi, identitas, dan nilai bangsa dipertaruhkan,” ujarnya dalam tulisannya berjudul Sumpah Pemuda Sebagai Gerakan Kultural di Tengah Gelombang Globalisasi.

Muhammad HS menilai bahwa generasi muda masa kini hidup dalam budaya serba cepat, di mana ukuran keberhasilan sering ditentukan oleh trending topic dan viralitas. Dalam situasi itu, tantangan utama bukan hanya beradaptasi dengan teknologi, tetapi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

“Bangsa yang besar bukan hanya yang mengingat sejarahnya, tetapi juga mampu menafsirkan ulang sejarah itu agar relevan dengan zaman,” tulisnya, mengutip pesan Soekarno.

Ia juga menyoroti fenomena disorientasi kultural di kalangan anak muda akibat globalisasi. Banyak generasi yang fasih berbahasa digital, namun gagap memahami budaya sendiri. Kondisi ini sejalan dengan konsep disembedding yang dikemukakan sosiolog Anthony Giddens — terlepasnya manusia dari konteks tradisional karena modernisasi.

Di Kalimantan Selatan, lanjutnya, tradisi seperti Mamanda, Madihin, dan musik Panting mulai jarang dipentaskan oleh generasi muda, padahal di dalamnya terkandung nilai moral dan spiritual yang bisa menjadi kompas di tengah derasnya arus budaya populer.

“Jika kesenian kita berhenti dimainkan, maka ingatan kolektif kita perlahan ikut mati,” kutipnya dari seorang budayawan Banjar.

Muhammad HS menekankan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus dimaknai ulang sebagai gerakan kultural berkelanjutan, bukan sekadar upacara seremonial tahunan. Pemuda masa kini, katanya, perlu menjadikan teknologi sebagai alat pelestarian budaya, bukan penghancur identitas.

Menurutnya, literasi digital dan literasi budaya harus berjalan beriringan agar ruang digital juga bisa menjadi wadah bagi kebudayaan lokal untuk tumbuh dan dikenal luas. Ia mengutip pandangan sosiolog Manuel Castells yang menyebut masyarakat modern sebagai network society — masyarakat jejaring yang bertahan karena memiliki modal budaya (cultural capital).

“Penguasaan teknologi tanpa jati diri budaya ibarat kapal tanpa kompas. Pemuda Indonesia harus menjadi navigator yang bijak, bukan sekadar penumpang di arus globalisasi,” tulisnya tegas.

Di tanah Banua, nilai-nilai seperti ‘Baiman, Bauntung, Batuah’ disebutnya sebagai falsafah hidup yang bisa menjadi fondasi etika digital generasi muda Banjar. Kemajuan, katanya, bukan diukur dari seberapa cepat kita meniru dunia, melainkan seberapa bijak kita menata arah sendiri.

Ia menutup tulisannya dengan ajakan reflektif:

“Sumpah Pemuda bukan sekadar teks sejarah yang dihafalkan setiap Oktober, melainkan semangat yang harus dihidupkan setiap hari. Karena bangsa ini akan bertahan bukan oleh kekuatan senjata, tetapi oleh keteguhan identitas dan karakter generasinya.”

Muhammad HS mempersembahkan tulisan ini untuk seluruh pemuda-pemudi yang terus menyalakan semangat juang menuju Indonesia Emas 2045.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Daerah