BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru masih mengkaji penetapan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan hasil koordinasi bersama pemerintah daerah. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Banjarbaru, Zaini menyampaikan hingga saat ini belum ada penetapan status siaga darurat di Kota Banjarbaru. Keputusan tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan melihat perkembangan kondisi di lapangan serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Untuk Kota Banjarbaru saat ini memang belum ada status keadaan darurat maupun siaga bencana. Nanti akan kita tentukan bersama pemerintah daerah dengan melihat perkembangan kondisi di lapangan dan keterangan dari BMKG,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Karhutla Provinsi Kalsel Tahun 2026 di Gedung Idham Chalid, Senin (06/07/2026).
Meski belum menetapkan status siaga darurat, BPBD Kota Banjarbaru tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Berdasarkan data BPBD, hingga saat ini telah terjadi 19 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 29,2 hektare. Sementara itu, hotspot yang terpantau di wilayah Banjarbaru berjumlah tiga titik.
“Hotspot yang terdata memang ada tiga, tetapi kejadian kebakarannya sudah mencapai 19 kali dengan luas lahan terbakar sekitar 29,2 hektare,” ungkapnya.
Menurutnya, kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor menjadi prioritas utama dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla sesuai arahan Gubernur Kalsel. Selain itu, Kecamatan Cempaka dan Kecamatan Landasan Ulin juga menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena didominasi lahan gambut yang mulai mengering.
“Fokus utama tetap kawasan bandara. Selain itu Cempaka dan Landasan Ulin juga menjadi perhatian karena lahan gambut di sana mulai mengering,” jelasnya.
Ia menuturkan, BPBD Kota Banjarbaru bersama personel di lapangan melakukan pemantauan setiap hari untuk mengetahui perkembangan kondisi lahan. Hasil pemantauan menunjukkan tinggi muka air di sejumlah kawasan gambut mulai menurun sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Penanganan karhutla, lanjutnya, dilakukan melalui kolaborasi dengan BPBD Provinsi Kalsel, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya agar respons terhadap kejadian kebakaran dapat dilakukan lebih cepat, khususnya di kawasan yang menjadi prioritas pengawasan.
Terkait penyebab kebakaran, ia menilai sebagian kejadian diduga dipicu aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar. Dua kejadian yang sempat terjadi di kawasan sekitar bandara diduga berasal dari aktivitas tersebut.
Karena itu, BPBD Kota Banjarbaru terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar sebagai upaya mencegah meluasnya kebakaran selama musim kemarau.
“Kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Gunakan cara lain agar tidak menimbulkan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.











Comments