DaerahKebakaran

Luas Karhutla di Kalsel Capai 27 Ribu Hektare, BPBD Optimalkan Modifikasi Cuaca

0

KALSEL, REPORTASE9.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Hingga pembaruan data per 15 Oktober 2026, luas lahan yang terbakar dan terdampak karhutla di Kalimantan Selatan tercatat mencapai sekitar 27 ribu hektare.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Kalimantan Selatan Ronny Eka Saputra menjelaskan, berbagai langkah penanggulangan telah dilakukan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah memasuki tahap keempat.

Pelaksanaan OMC tahap keempat berlangsung sejak 10 Oktober hingga 20 Oktober 2026. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah Kalimantan Selatan, terutama di daerah yang masih mengalami kebakaran lahan.

Meski demikian, hujan yang turun hingga saat ini belum merata. Sejumlah wilayah yang telah menerima hujan antara lain Kabupaten Tabalong, Balangan, dan sebagian wilayah Amuntai. BPBD Kalsel pun terus mengupayakan pelaksanaan modifikasi cuaca apabila kondisi dan potensi memungkinkan.

Menurutnya, hujan masih menjadi faktor penting dalam membantu proses pemadaman karhutla, terutama pada lahan yang sulit dijangkau dan memiliki potensi kebakaran berulang.

“Sebesar apa pun upaya yang kita lakukan, hujan merupakan salah satu faktor paling efektif untuk membantu memadamkan karhutla. Karena itu, kita terus berupaya agar hujan bisa turun di wilayah Kalimantan Selatan,” ujarnya pada Kamis (15/10/2026).

Dari total luasan sekitar 27 ribu hektare tersebut, BPBD menegaskan bahwa angka itu merupakan akumulasi lahan yang terbakar dan terdampak selama periode penanganan, bukan seluruhnya masih dalam kondisi terbakar.

Berdasarkan hasil pemantauan patroli udara, luas lahan yang masih memiliki api aktif tercatat sekitar 41,7 hektare. Sementara itu, teridentifikasi 15 titik kebakaran yang masih memerlukan penanganan.

Kabupaten Banjar menjadi salah satu wilayah yang masih mendapat perhatian dalam upaya pemadaman. Kebakaran baru dilaporkan terjadi di kawasan Pamaton dan Belangian, termasuk sejumlah area di bagian timur wilayah tersebut.

Meski demikian, proses pemadaman di kawasan itu relatif lebih mudah karena karakteristik lahannya berupa tanah mineral. Penggunaan helikopter untuk pengeboman air atau water bombing dinilai cukup efektif, bahkan dalam satu hingga dua kali penjatuhan air pada titik tertentu.

Di sisi lain, BPBD juga terus memanfaatkan teknologi drone thermal untuk mendeteksi titik panas, termasuk indikasi kebakaran yang berada di bawah permukaan tanah.

Teknologi tersebut menjadi salah satu instrumen pendukung dalam pemantauan dan penanganan karhutla, khususnya di kawasan yang masih berpotensi menyimpan bara api.

Selain penanganan di lapangan, BPBD Kalsel juga memantau perkembangan status kedaruratan bencana di tingkat kabupaten. Hingga informasi terakhir yang disampaikan, tiga kabupaten telah menetapkan status siaga darurat karhutla, yakni Kabupaten Tapin, Barito Kuala, dan Banjar.

Sementara itu, status siaga darurat karhutla di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan masih berlaku hingga 31 Oktober 2026.

BPBD menyebutkan, evaluasi terhadap status tersebut akan dilakukan menjelang berakhirnya masa penetapan. Keputusan mengenai kemungkinan perpanjangan status siaga darurat akan disesuaikan dengan hasil evaluasi kondisi karhutla dan kebutuhan penanganan di lapangan.

Dengan masih ditemukannya titik api aktif di sejumlah wilayah, upaya pemadaman, pemantauan melalui patroli udara, pemanfaatan teknologi drone thermal, serta pelaksanaan modifikasi cuaca terus menjadi bagian dari langkah penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Daerah