Kota BanjarbaruPendidikan

Jelang TKA, 350 Siswa SMAN 2 Banjarbaru Dibekali Motivasi dan Hipnoterapi

0

BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Sebanyak 350 siswa SMA Negeri 2 Banjarbaru mengikuti kegiatan pembekalan Tes Kemampuan Akademik (TKA) melalui motivasi dan hipnoterapi di Gedung Bina Satria, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan mental dan meningkatkan kepercayaan diri siswa sebelum menghadapi TKA yang dijadwalkan mulai pekan depan.

Ketua Pelaksana TKA dan Asesmen Nasional 2026 SMAN 2 Banjarbaru, Lenny Agustina, mengatakan jumlah peserta yang mengikuti TKA sekaligus pembekalan mencapai sekitar 365 siswa. Namun, sebanyak 350 siswa hadir dalam kegiatan tersebut, sementara sebagian lainnya berhalangan hadir, di antaranya karena sakit.

Menurutnya, pembekalan ini menjadi salah satu upaya sekolah untuk memastikan para siswa lebih siap menghadapi ujian, baik dari sisi akademik maupun mental.

“Pembekalan hari ini berupa motivasi dan hipnoterapi agar anak-anak lebih siap menghadapi TKA yang dijadwalkan mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026, yang dilaksanakan secara bertahap dalam dua gelombang,” ujarnya.

Lenny menjelaskan, kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, salah satunya psikolog sekolah yang selama ini turut mendampingi siswa dalam menghadapi berbagai persoalan, baik terkait pembelajaran maupun kondisi psikologis.

Ia menambahkan, SMAN 2 Banjarbaru juga menyediakan layanan E-Curhat sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan keluhan dan permasalahan yang dihadapi. Melalui layanan tersebut, siswa dapat memperoleh pendampingan, baik melalui guru bimbingan konseling (BK) maupun psikolog sekolah.

Pendampingan psikologis juga dilakukan secara berkala setiap pekan agar siswa memiliki ruang yang aman dan nyaman untuk bercerita serta mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

Dalam sesi pembekalan, psikolog memberikan motivasi sekaligus mengajak siswa melakukan refleksi terhadap perjalanan pendidikan yang telah mereka tempuh selama tiga tahun di bangku SMA.

Lenny berharap, melalui kegiatan ini, siswa semakin percaya diri dan mampu mengerjakan soal TKA dengan tenang berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajari selama mengikuti pendidikan di sekolah.

“Kami mempersiapkan siswa semaksimal mungkin, mulai dari gladi, simulasi, hingga pembekalan seperti hari ini. Harapannya, mereka lebih matang, percaya diri, dan mampu menjawab soal sesuai dengan kemampuan serta materi yang sudah dipelajari,” jelasnya.

Ia menegaskan, TKA tidak hanya perlu dipandang sebagai ujian, tetapi juga dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk mengenali kemampuan akademik siswa dalam menentukan pilihan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Karena itu, sekolah berharap pembekalan tersebut tidak hanya bermanfaat saat pelaksanaan TKA, tetapi juga menjadi bekal bagi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan, termasuk ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Sementara itu, psikolog Reo Dwi Saputra, S.Psi., yang juga founder Ruang Kalem, mengatakan materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan emotional spiritual quotient (ESQ), yakni pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurut Reo, kecerdasan intelektual bukan satu-satunya faktor yang dibutuhkan siswa. Kemampuan mengelola emosi dan membangun pemaknaan hidup juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang mengambil keputusan serta menyelesaikan persoalan secara lebih bijaksana.

“Sering kali orang hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, padahal kecerdasan emosional dan spiritual juga penting. Ketika semuanya berjalan beriringan, seseorang akan lebih mampu menghadapi persoalan dengan emosi yang terkontrol dan kehidupan yang lebih bermakna,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pendekatan tersebut penting diberikan kepada siswa SMA agar mereka tidak hanya berfokus pada materi ujian, tetapi juga mampu mengenali dan mengendalikan perasaan cemas, gugup, maupun kekhawatiran yang muncul menjelang pelaksanaan TKA.

Dalam penyampaian materi, Reo mengedepankan interaksi langsung dengan peserta, termasuk mengajak siswa mengenali perasaan yang mereka alami ketika menghadapi ujian. Pendekatan ini dilakukan untuk membangun keterlibatan siswa sekaligus membantu mereka memahami kondisi emosional masing-masing.

Reo juga menyoroti pentingnya peran guru dan orang tua dalam memberikan dukungan kepada siswa. Menurutnya, ujian memang dapat menjadi tantangan tersendiri, tetapi siswa perlu memahami bahwa proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan pendidikan yang harus dijalani.

Dukungan emosional dari guru di sekolah, lanjutnya, perlu diperkuat dengan perhatian dan pendampingan orang tua di rumah. Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membangun keyakinan diri anak, terutama ketika mereka menghadapi tekanan akademik.

“Orang tua perlu memberikan motivasi, arahan, dan nasihat yang positif. Ketika anak merasa cemas atau terlalu banyak berpikir, mereka perlu diyakinkan bahwa proses belajar yang sudah dijalani selama ini merupakan bekal nyata untuk menghadapi ujian,” tuturnya.

Melalui sinergi antara sekolah dan keluarga, Reo berharap siswa dapat menjalani TKA dengan lebih tenang, mampu mengelola emosi, serta memandang ujian sebagai kesempatan untuk mengenali kemampuan diri dan mempersiapkan langkah pendidikan selanjutnya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like