Kota BanjarbaruPemerintah

Ini Pandangan Anggota DPRD Nurkhalis Anshari di Hari Jadi ke 27 Kota Banjarbaru 

0
Anggota DPRD Banjarbaru Nurkhalis Anshari berikan pandangan terkait capaian Kota Banjarbaru di Hari Jadi ke 27 (Foto : Istimewa)

BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Memasuki usia ke-27 pada 20 April 2026, Kota Banjarbaru menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup solid dari sisi fiskal, ekonomi, dan pembangunan manusia. Namun, di balik capaian tersebut, tantangan pemerataan dan kualitas pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Nurkhalis Anshari, yang menilai bahwa perkembangan Banjarbaru dalam beberapa tahun terakhir patut diapresiasi, meski tetap memerlukan evaluasi menyeluruh.

Dari sisi fiskal, kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banjarbaru terus meningkat. Pada periode 2024–2025, APBD berada di kisaran Rp1,6 hingga Rp1,8 triliun. 

“Komposisi belanja masih didominasi belanja operasi, sementara belanja modal mulai meningkat meski dinilai belum optimal dalam mendorong efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat,”jelasnya pada Senin (20/4/2026).

Kemudian lanjutnya lagi pada aspek makroekonomi, laju pertumbuhan ekonomi Banjarbaru berada di kisaran 6,4 hingga 6,8 persen per tahun. Angka ini relatif stabil dan berada di atas rata-rata nasional maupun Provinsi Kalimantan Selatan. 

Struktur ekonomi ditopang oleh sektor perdagangan, jasa, konstruksi, serta administrasi pemerintahan. Kendati demikian, ketergantungan pada sektor tertentu menunjukkan perlunya diversifikasi ekonomi agar lebih tahan terhadap berbagai guncangan.

Dari sisi pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banjarbaru terus meningkat dan kini berada di kisaran 80 hingga 82, masuk dalam kategori tinggi.

Capaian ini mencerminkan perbaikan di sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Namun, peningkatan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan pemerataan kualitas layanan dasar di seluruh wilayah.

Di sektor sosial-ekonomi, tingkat kemiskinan Banjarbaru tergolong rendah, yakni di kisaran 3 hingga 4 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4 hingga 5 persen. 

“Meski menunjukkan kondisi yang cukup baik, tantangan terkait kualitas pekerjaan dan daya saing tenaga kerja lokal masih perlu mendapat perhatian. Juga pada sektor pembangunan fisik, berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari ekspansi kawasan permukiman, peningkatan konektivitas jalan, hingga pengembangan kawasan strategis,”ungkapnya.

“Status Banjarbaru sebagai pusat pemerintahan provinsi juga diprediksi akan meningkatkan tekanan terhadap tata ruang, lingkungan, dan layanan publik di masa mendatang,”tambahnya lagi.

Meski demikian, Nurkhalis menegaskan masih terdapat sejumlah catatan penting. Pertumbuhan yang terjadi dinilai belum sepenuhnya merata antarwilayah. 

Kesenjangan akses infrastruktur dan peluang ekonomi masih dirasakan di beberapa titik. Selain itu, program pemberdayaan UMKM dinilai belum sepenuhnya mampu mendorong pelaku usaha naik kelas secara signifikan.

Ia juga menyoroti pentingnya efektivitas belanja daerah. Menurutnya, fokus tidak lagi hanya pada besarnya serapan anggaran, tetapi juga pada sejauh mana dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Momentum 27 tahun ini harus menjadi titik evaluasi yang jujur dan terukur. Banjarbaru tidak kekurangan potensi, namun membutuhkan arah kebijakan yang tepat, keberanian berbenah, serta konsistensi agar pertumbuhan yang terjadi benar-benar inklusif dan berkeadilan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari kecepatan pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuannya memastikan tidak ada warga yang tertinggal.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like