BANJAR, REPORTASE9.ID – BPBD Kabupaten Banjar terus memperkuat kesiapsiagaan bencana bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, melalui inovasi SEPIDARMAN (Sistem Penanganan Darurat Aman dan Nyaman). Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana serta langkah-langkah penyelamatan diri saat menghadapi situasi darurat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Banjar, Abdullah Fahtar mengatakan, SEPIDARMAN merupakan inovasi yang dikembangkan untuk memperkuat sistem penanganan darurat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, edukasi menjadi salah satu fokus utama dalam program tersebut. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami perilaku yang berpotensi memicu bencana, seperti membakar hutan dan lahan maupun membakar sampah sembarangan.
“Melalui program ini kami memberikan edukasi terkait pencegahan bencana, mulai dari larangan membakar hutan dan lahan, tidak membakar sampah sembarangan, hingga pengelolaan lingkungan yang baik untuk mengurangi risiko bencana,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (25/06/2026).
Selain menyasar masyarakat umum, BPBD Banjar juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Salah satu kegiatan edukasi kebencanaan telah dilaksanakan di Desa Tanjung Rema dengan membekali peserta pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menyelamatkan diri saat menghadapi berbagai potensi bencana.
Menurut Abdullah, edukasi bagi kelompok rentan sangat penting karena mereka memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri saat berada dalam kondisi darurat. Melalui pemahaman yang memadai, kelompok rentan diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan serta mengambil langkah penyelamatan yang tepat ketika bencana terjadi.
“Semua lapisan masyarakat harus memahami cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep SEPIDARMAN mengedepankan kesiapan seluruh sumber daya kebencanaan, mulai dari personel, peralatan, operasional, hingga logistik. Dengan kesiapan tersebut, penanganan darurat diharapkan dapat dilakukan lebih cepat, responsif, dan terkoordinasi.
Salah satu keunggulan SEPIDARMAN adalah penerapan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Melalui kolaborasi tersebut, BPBD Banjar menggandeng berbagai pihak, termasuk media massa, Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Kabupaten Banjar, serta Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah 19.02 Kabupaten Banjar untuk memperkuat sistem komunikasi dan penyebaran informasi kebencanaan.
“Jaringan komunikasi yang kami bangun memungkinkan pemantauan kondisi di 17 kecamatan secara cepat, terutama saat menghadapi peralihan musim dari penghujan ke kemarau yang berpotensi menimbulkan kekeringan,” ungkapnya.
Meski demikian, BPBD Banjar masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan anggaran, khususnya untuk mendukung operasional posko kebencanaan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Karena itu, pihaknya berharap dukungan dari seluruh stakeholder agar upaya mitigasi, kesiapsiagaan, dan penanganan bencana dapat berjalan secara optimal.
“Kami berharap dukungan dari seluruh stakeholder agar operasional posko serta berbagai kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana dapat terus berjalan dengan baik demi keselamatan masyarakat,” pungkasnya.















Comments