Kota BanjarbaruSeni & Budaya

Mamanda Lintas Generasi Hidupkan Ruang Publik Banjarbaru

0

BANJARBARU,REPORTASE9.ID – Komitmen menjaga dan merawat budaya khas Kalimantan Selatan kembali ditegaskan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru melalui pementasan seni tradisional Mamanda lintas generasi. 

Pertunjukan ini digelar di Panggung Taman Van der Pijl, Sabtu (7/2/2026) malam, dan disaksikan langsung Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama ratusan warga.

Pentas bertajuk “Pentas Mamanda dan Silaturahim Paguyuban/Komunitas Seni Banjarbaru” tersebut disambut antusias masyarakat. Sejak sore hari, warga tampak memadati kawasan taman kota untuk menyaksikan teater tradisional yang menjadi identitas budaya Banua.

Mamanda, teater khas Kalimantan Selatan yang bermakna “paman yang terhormat”, dikenal dengan dialog-dialog improvisatif yang sarat humor dan kritik sosial. Dalam pementasan kali ini, kisah Putri Raja Kencana Emas diangkat sebagai tema utama. 

Cerita tersebut mengisahkan perjuangan sang putri menimba ilmu di Puncak Gunung Karangmunting demi membawa kerajaannya menjadi negeri yang elok, maju, adil, dan sejahtera.

Ketua Umum KEK Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menyampaikan bahwa pementasan Mamanda bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari strategi membangun Banjarbaru sebagai kota ekonomi kreatif berbasis budaya.

“Pentas Mamanda malam ini adalah wujud nyata tekad kami menjadikan Banjarbaru sebagai kota ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan. Nilai-nilai budaya luhur harus terus hidup dan terintegrasi dengan inovasi ekonomi modern,” ujar Riandy dalam sambutannya.

Ia menegaskan, Mamanda sejatinya merupakan sebuah ekosistem ekonomi kreatif. Di dalamnya melibatkan banyak sektor, mulai dari penjahit kostum, komposer musik, penata artistik, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Inilah esensi ekonomi kreatif. Ada kolaborasi lintas sektor yang menciptakan nilai tambah ekonomi tanpa meninggalkan tradisi. Budaya tidak hanya dirawat, tetapi juga diberdayakan,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Riandy juga menyinggung kerja sama KEK Banjarbaru dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dalam rangka mewujudkan 10 Prinsip Kota Kreatif Indonesia sebagai fondasi pembangunan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

“Komitmen itu kami jalankan melalui Catha Ekadasa, sebelas jurus strategis penguatan hexa helix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan sektor lainnya,” ungkapnya.

Riandy menambahkan, kegiatan ini menjadi langkah awal dari rangkaian program pemanfaatan ruang publik sebagai panggung seni budaya di Kota Banjarbaru.

“Ke depan, kami menargetkan minimal setiap bulan ada pertunjukan seni di ruang publik. Tidak hanya Mamanda, tetapi juga kesenian lainnya, agar ruang publik semakin hidup dan ekonomi budaya Banjarbaru kian kuat,” katanya.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pertunjukan. Penonton tampak serius mengikuti alur cerita, diselingi tawa oleh dialog spontan yang menjadi ciri khas Mamanda.

Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby pun terlihat menikmati seluruh rangkaian pementasan hingga selesai. Kehadiran orang nomor satu di Banjarbaru itu dinilai sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah kota terhadap pelestarian seni dan budaya lokal.

Salah satu pegiat budaya, H.E. Benjamin, turut mengapresiasi langkah KEK Banjarbaru dalam menghidupkan kembali ruang-ruang budaya di kota ini.

“Saya bangga dengan komitmen KEK Banjarbaru. Banjarbaru memiliki banyak ruang kreatif yang bisa dimaksimalkan. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk mewujudkan Banjarbaru sebagai kota kreatif, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dengan menghadirkan budaya ke ruang publik, KEK Banjarbaru berharap seni tradisi tidak hanya dikenang, tetapi terus tumbuh dan berkembang seiring denyut kehidupan kota dan warganya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like