EkonomiNasional

Tekan Biaya Tinggi, ASPERINDO Gandeng Industri Pos & Logistik

0

NASIONAL, REPORTASE9.ID – Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) nyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah mempercepat transformasi industri logistik nasional melalui konsolidasi penyelenggara pos dan penguatan ekonomi digital. Langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk menekan biaya logistik nasional yang masih tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASPERINDO Budiyanto Darmastono dalam forum Digital Economy and Logistics (DEAL) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), di Jakarta pada Selasa (23/6/2026).

Ia mengatakan biaya logistik Indonesia saat ini masih mencapai sekitar 24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia maupun Singapura yang telah berada pada tingkat yang lebih efisien.

“Target pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, adalah bagaimana biaya logistik nasional dapat turun menjadi 8 sampai 15 persen sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain di kawasan,” katanya.

Menurut Budiyanto, efisiensi logistik menjadi salah satu prasyarat penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional sekaligus memperkuat ekosistem perdagangan digital yang terus berkembang. Karena itu, ASPERINDO mengapresiasi langkah Komdigi yang menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 8 Tahun 2025 sebagai landasan pembenahan sektor pos dan logistik.

Budiyanto menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 780 penyelenggara pos yang beroperasi di Indonesia. Namun, kapasitas dan kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut sangat beragam. Sebagian besar merupakan pelaku usaha skala kecil dan menengah yang belum memiliki jaringan nasional, sistem operasional yang terintegrasi, maupun standar layanan yang seragam.

Kondisi tersebut selama ini menjadi salah satu tantangan dalam menciptakan efisiensi industri logistik nasional. Banyak penyelenggara pos yang hanya mampu melayani wilayah tertentu sehingga ruang ekspansi usaha menjadi terbatas.

“Sebagian besar penyelenggara pos masih beroperasi secara lokal. Mereka belum memiliki jaringan yang menjangkau seluruh Indonesia dan sistem yang terintegrasi sehingga kualitas layanan juga belum seragam,” ujarnya.

Budiyanto menilai hadirnya skema konsolidator yang diatur dalam regulasi terbaru menjadi terobosan penting dalam memperkuat ekosistem industri pos nasional. Saat ini, terdapat enam perusahaan yang telah terdaftar sebagai konsolidator dan mulai menjalankan peran menghubungkan berbagai penyelenggara pos di Indonesia.

Menurutnya, keberadaan konsolidator membuka peluang baru bagi perusahaan-perusahaan kurir berskala kecil untuk memperluas jangkauan bisnis tanpa harus membangun jaringan operasional yang mahal di seluruh wilayah Indonesia.

Sebelumnya, banyak perusahaan kurir hanya dapat beroperasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan beberapa wilayah perkotaan lainnya. Dengan adanya konsolidator, perusahaan-perusahaan tersebut kini memiliki kesempatan untuk menjual layanan pengiriman hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

“Teman-teman penyelenggara pos yang kecil sekarang bisa berjualan ke seluruh wilayah Indonesia. Tidak ada lagi batasan wilayah seperti sebelumnya,” kata Budiyanto.

Selain memperluas akses pasar, skema konsolidator juga dinilai mampu meningkatkan kapasitas layanan perusahaan kurir skala kecil. Jika sebelumnya mereka hanya menangani kiriman dalam jumlah terbatas, kini mereka dapat ikut serta dalam penanganan volume pengiriman yang lebih besar, termasuk layanan berbasis Cash on Delivery (COD) yang menjadi kebutuhan utama perdagangan elektronik.

Budiyanto menjelaskan selama ini layanan COD lebih banyak ditangani oleh sejumlah perusahaan besar. Namun melalui mekanisme konsolidasi, peluang untuk terlibat dalam layanan tersebut kini terbuka lebih luas bagi pelaku usaha lainnya.

Menurut ASPERINDO, perkembangan ini akan menciptakan pemerataan kesempatan usaha sekaligus meningkatkan kompetisi yang sehat dalam industri logistik nasional.

Data industri menunjukkan sektor logistik memiliki kontribusi ekonomi yang sangat besar. Budiyanto menyebut pendapatan industri logistik nasional, khususnya sektor kurir dan pengiriman, mencapai sekitar Rp78 triliun.

Selain itu, sektor tersebut juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar dengan jumlah pekerja mencapai sekitar enam juta orang di seluruh Indonesia.

“Ini industri yang sangat besar. Tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar enam juta orang dan terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi digital,” ujarnya.

Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari volume pengiriman barang yang terus meningkat setiap tahun. Saat ini rata-rata volume kiriman nasional mencapai sekitar 25 juta hingga 27 juta paket per hari, didorong oleh pesatnya perkembangan e-commerce dan transformasi digital masyarakat.

Besarnya volume pengiriman tersebut menunjukkan bahwa sektor logistik telah menjadi salah satu tulang punggung ekonomi digital Indonesia. Karena itu, upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat integrasi layanan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Budiyanto berharap forum DEAL 2026 tidak berhenti sebagai ajang diskusi dan deklarasi semata, melainkan menjadi momentum lahirnya kebijakan dan kolaborasi konkret antara pemerintah, regulator, serta pelaku industri.

Menurutnya, keberlanjutan program konsolidasi dan penguatan regulasi akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam menciptakan sistem logistik yang lebih efisien, kompetitif, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Budiyanto juga menegaskan ASPERINDO siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan transformasi industri logistik agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh pelaku usaha, termasuk perusahaan kurir berskala kecil dan menengah.

“Kami berharap konsolidasi industri logistik dapat terus berjalan sehingga efisiensi semakin meningkat dan target pemerintah untuk menurunkan biaya logistik menjadi 8 sampai 15 persen dapat tercapai,” pungkasnya.

Penguatan industri logistik dan ekonomi digital tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis inovasi dan teknologi serta memperkuat pemerataan pembangunan ekonomi hingga ke seluruh wilayah Indonesia.

Melalui konsolidasi industri, integrasi sistem, dan peningkatan efisiensi layanan, sektor logistik diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Sumber : infopublik.id)

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Ekonomi