BANJAR, REPORTASE9.ID – Fenomena kematian ikan massal di Keramba Jala Apung (KJA) di sepanjang Sungai Martapura dinilai bukan lagi peristiwa yang mengejutkan. Periset Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Rahmat Hidayat menyebut, kejadian tersebut hampir berulang setiap tahun saat musim kemarau dan sudah memiliki pola yang dapat diantisipasi oleh para pembudidaya.
Ia menjelaskan, dari sisi teknis dan hasil kajian, kematian ikan massal dipicu oleh kondisi alam yang sulit dikendalikan, terutama ketika musim kemarau menyebabkan debit air sungai menurun drastis.
“Musim tidak bisa kita kendalikan. Hampir setiap tahun saat memasuki musim kemarau selalu ada pembudidaya ikan di sepanjang Sungai Martapura yang mengalami kematian ikan massal dengan kerugian hingga miliaran rupiah,” ujarnya, Senin (13/07/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pembudidaya untuk menyesuaikan pola budidaya. Ia menyarankan agar masyarakat tidak menebar benih saat memasuki musim yang rawan, melainkan menghentikan sementara aktivitas budidaya hingga kondisi perairan kembali normal.
“Kalau sudah mengetahui polanya seperti itu dari tahun ke tahun, sebaiknya saat memasuki musim rawan tidak menebar ikan dulu. Istilahnya berpuasa. Setelah kondisi air kembali baik dan musim berganti, baru mulai menebar benih lagi,” imbaunya.
Ia mengungkapkan, saat musim kemarau volume air di sungai menurun sehingga debit air dari Bendungan Riam Kanan juga ikut berkurang. Di sisi lain, aktivitas budidaya tetap berlangsung dengan pemberian pakan secara rutin agar ikan tetap tumbuh.
Akibatnya, sisa pakan yang tidak termakan dan kotoran ikan terus menumpuk di dasar perairan. Ketika debit air rendah, arus sungai melemah sehingga limbah organik tersebut tidak dapat terbawa arus dan terus terakumulasi di sekitar lokasi keramba.
“Kondisi itu menyebabkan kualitas air menurun. Ketika limbah organik menumpuk dan sirkulasi air berkurang, kadar oksigen terlarut ikut turun sehingga ikan mengalami stres, megap-megap, hingga akhirnya mati massal,” terangnya.
Ia menambahkan, budidaya ikan di sepanjang Sungai Martapura berada di kawasan perairan umum sehingga kebijakan pengelolaannya menjadi kewenangan pihak terkait. Namun, dari sisi teknis, pola kematian ikan akibat musim kemarau telah berulang hampir setiap tahun sehingga langkah adaptasi dari para pembudidaya menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko kerugian.











Comments