BANJAR, REPORTASE9.ID – Sebanyak 107 hektare lahan di Kabupaten Banjar terbakar akibat 17 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga pertengahan Juli 2026. Menghadapi potensi peningkatan karhutla pada puncak musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mengaktifkan Posko Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Banjar, Wasis Nugraha mengatakan, posko induk berada di Kantor BPBD Banjar, sedangkan dua posko lapangan ditempatkan di Kecamatan Beruntung Baru dan Martapura Barat.
“Per hari ini sudah kita mulai. Posko utama berada di BPBD sebagai posko induk, sementara posko lapangan ada di Beruntung Baru dan Martapura Barat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/07/2026).
Seiring meningkatnya ancaman karhutla, BPBD Banjar mencatat hingga pertengahan Juli 2026 telah terjadi 17 kali kebakaran hutan dan lahan dengan total luas area terbakar mencapai sekitar 107 hektare. Kejadian tersebut tersebar di 17 kecamatan di Kabupaten Banjar. Meski skala kebakaran di masing-masing wilayah relatif kecil, penyebarannya cukup merata.
“Total ada di 17 kecamatan. Memang eskalasinya masih kecil, tetapi penyebarannya merata. Yang paling banyak terjadi di Kecamatan Cintapuri Darussalam, kemudian Karang Intan, dan Martapura Barat,” paparnya.

Selain kejadian kebakaran, BPBD Banjar juga memantau perkembangan titik panas (hotspot). Hingga saat ini, tercatat sebanyak 130 hotspot terdeteksi di wilayah Kabupaten Banjar.
Ia mengingatkan kondisi saat ini masih berada pada awal musim kemarau. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada September mendatang sehingga potensi karhutla masih cukup tinggi.
“Ini baru awal musim kemarau. Puncaknya diprediksi BMKG terjadi pada September. Artinya masih ada sekitar dua setengah bulan yang harus kita lalui bersama untuk terus mengawal, mengawasi, dan mengantisipasi terjadinya karhutla,” ungkapnya.
Dalam penanganan karhutla, BPBD Banjar terus berkolaborasi dengan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, relawan, Buser 690, PMI, perusahaan swasta, hingga TNI dan Polri.
“Penanganannya tentu kami berkolaborasi dengan seluruh stakeholder agar pemadaman dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” terangnya.
Apabila terjadi kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, BPBD Kabupaten Banjar akan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengajukan bantuan operasi udara.
“Kami akan bersurat ke provinsi untuk meminta bantuan melalui water bombing. Alhamdulillah, dari BNPB sudah ada respons positif. Pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga sudah siap, begitu pula helikopter water bombing yang dalam waktu tidak terlalu lama akan disiapkan di daerah kita,” tambahnya.
Saat ini, status penanganan bencana di Kabupaten Banjar masih berada pada Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan. Status tersebut ditetapkan hingga pertengahan September 2026 dan masih dimungkinkan diperpanjang hingga akhir September apabila kondisi di lapangan masih memerlukan penanganan intensif.











Comments