BANJARBARU,REPORTASE9.ID – Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, membagikan kisah inspiratif perjalanan hidupnya dari seorang atlet basket hingga dipercaya menjadi wakil rakyat saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Banjarbaru, Rabu (15/7/2026).
Emi, yang merupakan alumni SMAN 2 Banjarbaru angkatan 1997, hadir untuk berdiskusi sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta didik baru agar berani bermimpi dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Di hadapan para siswa, Emi mengungkapkan alasan dirinya dulu sangat ingin bersekolah di SMAN 2 Banjarbaru. Selain dikenal sebagai sekolah unggulan, SMAN 2 saat itu juga memiliki tim basket yang disegani di Banjarbaru.
“Dulu saya ingin sekali masuk SMADA karena ingin bergabung dengan tim basketnya yang terkenal hebat. Dari lapangan basket itulah saya banyak belajar hingga akhirnya bisa mengantarkan saya duduk di parlemen,” ujarnya.

Menurut Emi, kegiatan MPLS saat ini memiliki peran yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengenalkan lingkungan sekolah. Program tersebut menjadi momentum awal bagi sekolah untuk membangun karakter, menanamkan nilai-nilai positif, serta mempererat hubungan antara siswa dengan guru maupun kakak kelas.
Ia menilai Banjarbaru sebagai kota pendidikan sekaligus ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi. Kondisi tersebut menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi.
“MPLS harus menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal budaya sekolah, membangun kedekatan dengan guru, serta memahami nilai-nilai yang akan menjadi bekal selama mereka menempuh pendidikan,” katanya.
Emi juga menyoroti mulai menurunnya minat sebagian generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat sebagian anak merasa cukup memiliki keterampilan dasar untuk langsung bekerja tanpa melanjutkan kuliah.
Karena itu, ia menilai sekolah perlu menghadirkan lebih banyak kisah inspiratif yang mampu membangkitkan semangat belajar para siswa.
“Saya ingin menunjukkan bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa berhasil. Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Tidak harus menjadi yang paling pintar di kelas untuk sukses. Ada yang berprestasi melalui olahraga, seni, sains, maupun bidang lainnya. Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan berkembang,” tuturnya.
Emi menjelaskan, pengalaman berorganisasi dan aktif di dunia olahraga telah membentuk mentalnya dalam menghadapi tantangan. Dari basket, ia belajar tentang kerja sama, disiplin, menghadapi kegagalan, hingga bangkit untuk meraih kemenangan.
“Di lapangan basket saya belajar bagaimana menghadapi tekanan, bekerja sama dalam tim, menerima kekalahan, lalu bangkit dan berlatih lebih keras. Nilai-nilai itu juga sangat berguna dalam kehidupan maupun dunia kerja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Emi mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial tidak boleh mengurangi peran guru sebagai teladan bagi peserta didik. Karena itu, hubungan yang baik antara guru dan siswa perlu terus dibangun agar proses pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah anak, inklusif, serta bebas dari perundungan (bullying).
“Program MPLS sekarang sudah bukan zamannya lagi mengedepankan kegiatan yang bersifat fisik.
Fokus utamanya adalah membangun karakter, memperkuat nilai-nilai moral, serta menyiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan di era digital,” tegasnya.
Emi berharap seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari sekolah, guru, orang tua, hingga para alumni, dapat bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, inspiratif, dan mampu mendorong lahirnya generasi muda yang berkarakter serta berprestasi.











Comments