EkonomiNasional

BPDP Perkuat Industri Sawit, Dorong Hilirisasi hingga Peremajaan Kebun Rakyat

0

NASIONAL, REPORTASE9.ID – Selain menjadi penyumbang devisa terbesar dari sektor perkebunan, industri kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. komoditas ini berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, mendukung ketahanan energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, dalam rilis pada Jumat (31/7/2026) mengatakan kelapa sawit memiliki produktivitas lahan paling tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Dengan produktivitas yang mencapai sekitar 4 ton minyak per hektare, sawit dinilai menjadi komoditas paling efisien untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat.

“Kelapa sawit merupakan komoditas minyak dunia dengan produktivitas lahan yang paling baik dibandingkan minyak nabati lainnya. Karena itu, sawit menjadi pilihan yang paling berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global,” ujar Zaid dalam paparan pada kegiatan Kunjungan Kerja Pers BPDP 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Menurut Zaid, besarnya kontribusi industri sawit tidak lepas dari peran pekebun rakyat. Saat ini, perkebunan rakyat menguasai sekitar 41 persen dari total luas areal sawit nasional, hampir menyamai perkebunan besar swasta yang menguasai 55 persen. Dari sisi produksi, kebun rakyat telah menghasilkan sekitar 16,64 juta ton atau sekitar 36 persen produksi sawit nasional pada 2025.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa petani sawit rakyat telah menjadi aktor penting dalam industri sawit nasional. Mereka tidak lagi hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi salah satu penopang utama produksi sawit Indonesia,” jelasnya.

Zaid juga mengungkapkan sawit tetap menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia dengan nilai ekspor lebih dari USD20 miliar setiap tahun. Yang menarik, lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia kini telah berupa produk hilir, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

“Hilirisasi menjadi kunci agar industri sawit tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai tinggi yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global,” katanya.

Produk hilir sawit saat ini telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari minyak goreng, margarin, vitamin, kosmetik, sabun, deterjen, hingga biofuel seperti biodiesel. Bahkan limbah sawit juga telah dimanfaatkan menjadi biomassa, pakan ternak, dan bioetanol yang memberikan nilai ekonomi tambahan.

Selain memberikan kontribusi terhadap ekspor, industri sawit juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. BPDP mencatat sekitar 16,5 juta orang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor ini, terdiri dari sekitar 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 7,8 juta tenaga kerja tidak langsung yang tersebar di berbagai sektor pendukung.

“Industri sawit bukan hanya berbicara mengenai komoditas, tetapi juga menyangkut kehidupan jutaan masyarakat Indonesia yang bergantung pada sektor ini,” ujar Zaid.

Dalam mendukung target transisi energi nasional, BPDP juga terus mendukung implementasi program biodiesel. Zaid menjelaskan bahwa penerapan mandatori B40 pada 2025 diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun, mengurangi emisi karbon lebih dari 41 juta ton CO₂ ekuivalen, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

“Hingga semester pertama 2025, implementasi B40 telah memberikan penghematan devisa sekitar USD3,68 miliar atau setara Rp60,37 triliun. Program ini menjadi salah satu bukti bahwa sawit mampu mendukung ketahanan energi sekaligus agenda transisi menuju energi hijau,” katanya.

Meski demikian, Zaid mengakui industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas kebun rakyat yang belum optimal, persoalan legalitas lahan, kampanye negatif di pasar global, hingga hambatan perdagangan internasional. Karena itu, BPDP terus memperkuat berbagai program strategis seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, riset, promosi, serta dukungan terhadap program biodiesel.

Sepanjang periode 2015–2025, BPDP telah menyalurkan dana untuk berbagai program strategis, di antaranya peremajaan sawit rakyat seluas 408.146 hektare yang melibatkan lebih dari 182 ribu pekebun, pemberian beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, pelatihan bagi 29.173 pekebun, serta pendanaan ratusan riset untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor perkebunan.

“Ke depan, BPDP akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, asosiasi, perguruan tinggi, dan para pekebun agar industri perkebunan Indonesia semakin berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tutup Zaid. (Sumber : infopublik.id)

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Ekonomi