KALSEL, REPORTASE9.ID — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus diperkuat. Gubernur Kalsel H. Muhidin turun langsung meninjau kawasan Jalan Gubernur Syarkawi Kilometer 17, Gambut, Kabupaten Banjar, Selasa (22/9/2026).
Di lokasi tersebut, kabut asap masih menyelimuti kawasan dan sejumlah titik api ditemukan masih menyala. Didampingi Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, Danlanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Kasrem 101/Antasari Kolonel Inf. Roy Fakhrul Rozi, unsur Forkopimda Kalsel serta sejumlah kepala SKPD, Gubernur Muhidin ikut melakukan pemadaman secara langsung.
Menggunakan selang pemadam, Muhidin menyemprotkan air ke sejumlah titik yang masih terbakar di tengah kondisi lapangan yang dipenuhi asap. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan di lapangan sekaligus melihat langsung dampak asap terhadap kawasan dan masyarakat.

Sebelum menuju lokasi tersebut, Gubernur Muhidin juga mengecek dapur karhutla di kawasan Pengayuan dan Guntung Damar. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kebutuhan logistik bagi petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla tetap tersedia.
Dari lokasi karhutla, rombongan kemudian bergerak menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum. Rumah sakit tersebut sebelumnya sempat terdampak kepungan asap sehingga sejumlah pasien harus dievakuasi dari ruangan yang berdekatan dengan titik api.
Di rumah sakit, Gubernur Muhidin bersama Kapolda Kalsel, Kasrem yang mewakili Danrem 101/Antasari, Wakapolda Kalsel dan jajaran rumah sakit mengecek kondisi terkini sekaligus membahas langkah penanganan untuk mencegah api kembali mendekati kawasan pelayanan kesehatan tersebut.
Muhidin mengatakan, saat tiba di lokasi, kondisi rumah sakit sudah relatif aman. Meski demikian, masih ditemukan titik api di bagian belakang kawasan.
“Ternyata di belakang ini masih ada api dan kita sempat melihat ke sana,” kata Muhidin.
Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Provinsi Kalsel akan mengerahkan alat berat untuk melakukan pembersihan atau land clearing di sekitar kawasan rumah sakit.
Menurut Muhidin, lahan seluas sekitar 20 hektare akan dibersihkan menggunakan ekskavator mulai Rabu (23/9/2026).
“Hari ini kami datangkan ekskavator untuk land clearing di daerah sini. Sebanyak 20 hektare kita land clearing,” ujarnya.
Pembersihan lahan tersebut diharapkan dapat menciptakan area yang lebih aman sekaligus memudahkan upaya pengendalian api di sekitar rumah sakit.
Selain itu, lahan yang telah dibersihkan nantinya dapat dimanfaatkan pihak RSJ Sambang Lihum untuk menyiapkan fasilitas pendukung, termasuk sumber air seperti sumur yang dapat digunakan dalam penanganan karhutla.
“Jadi nanti Rumah Sakit Sambang Lihum bisa bikin sumur air atau digunakan untuk keperluan lainnya,” jelasnya.
Saat peninjauan berlangsung, kondisi asap mulai berkurang seiring perubahan arah angin yang membuat asap bergerak menjauh dari kawasan rumah sakit.
“Alhamdulillah sudah membaik,” pungkas Muhidin.
Direktur RSJ Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy Noora, menjelaskan, karhutla yang terjadi di sekitar rumah sakit berkaitan dengan kawasan hutan lindung Liang Anggang yang terbakar sejak beberapa hari terakhir.
Ia menyebut total lahan yang dikelola RSJ Sambang Lihum mencapai sekitar 20 hektare. Dari luas tersebut, sekitar 6 hektare digunakan sebagai fasilitas pelayanan, sedangkan 14 hektare lainnya masih berupa kawasan berhutan.
Menurut Yuddy, hampir seluruh kawasan berhutan tersebut terdampak karhutla, meski titik api tersebar. Salah satu area dengan konsentrasi api cukup besar mencapai sekitar dua hektare.
“Dari 14 hektare itu hampir semua terdampak, hanya titik apinya yang tersebar. Untuk area yang cukup besar sekitar dua hektare,” ujarnya.
Api sebelumnya telah ditangani bersama BNPB dan BPBD, termasuk dengan dukungan helikopter water bombing. Namun, ketika helikopter dialihkan untuk menangani lokasi lain, kondisi di sekitar rumah sakit kembali memburuk.
Api kemudian membesar dan asap bergerak menuju kawasan rumah sakit hingga mengganggu pasien.
“Kami akhirnya melakukan evakuasi sementara karena asap semakin tebal,” kata Yuddy.
Evakuasi dilakukan secara internal dengan memindahkan pasien dari ruangan yang berdekatan dengan titik api menuju area yang dinilai lebih aman.
Meski demikian, Yuddy memastikan pelayanan medis tetap berjalan. Hanya saja, paparan asap membuat sejumlah pasien mengeluhkan kondisi pernapasan dan ketidaknyamanan.
“Operasional medis tetap berjalan, tapi keluhan pasien cukup banyak,” ujarnya.
Pihak rumah sakit sebelumnya telah membagikan masker kepada pasien. Namun, kondisi asap yang cukup tebal membuat penggunaan masker dinilai belum cukup untuk memberikan perlindungan sehingga pemindahan pasien menjadi langkah yang harus dilakukan.
Untuk mengantisipasi kembali mendekatnya api, RSJ Sambang Lihum berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan BNPB serta melaporkan perkembangan kondisi kepada Pemerintah Provinsi Kalsel.
Selain pembersihan lahan, rumah sakit juga menyiapkan sumber air tambahan melalui rencana pembangunan sumur gali yang dapat digunakan sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi karhutla.
Rumah sakit juga telah menyiapkan skenario evakuasi eksternal apabila kondisi semakin memburuk. Dalam skenario tersebut, RSJ Sambang Lihum berkoordinasi dengan Dinas Sosial.
Salah satu lokasi yang disiapkan yakni aula Balai Rehabilitasi Sosial dengan kapasitas sekitar 150 orang. Namun, untuk sementara, evakuasi internal masih menjadi prioritas sembari menunggu penanganan titik api di sekitar kawasan rumah sakit.
Yuddy berharap penguatan personel dan peralatan dapat segera dilakukan sehingga titik api dapat dikendalikan dan tidak kembali mengancam kawasan rumah sakit.
“Kalau sudah terkendali, kami berharap tidak perlu evakuasi eksternal,” pungkasnya.

















Comments