Kota BanjarbaruPolitik

Reses di Guntung Paikat, Nurkhalis Anshari Tampung Keluhan Warga soal Drainase hingga PJU

0

BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Nurkhalis Anshari, menyerap berbagai aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses di RT 03, RW 02, Kelurahan Guntung Paikat, Kota Banjarbaru, Jumat (28/8/2026) malam.

Dalam pertemuan yang berlangsung di salah satu kafe tersebut, sejumlah persoalan infrastruktur dan lingkungan menjadi perhatian warga. Mulai dari sistem drainase, akses jalan, penerangan jalan umum (PJU), hingga penataan lingkungan di sekitar kawasan permukiman.

Nurkhalis mengatakan, persoalan drainase menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan masyarakat. Pasalnya, sejumlah rumah warga masih kerap mengalami genangan ketika terjadi hujan.

“Memang daerah sini ternyata sudah lama belum ada reses. Sehingga kita tadi menampung aspirasi, terutama terkait sistem drainase. Banyak rumah warga ternyata mengalami genangan,” ujar Nurkhalis.

Menurutnya, sebagian jaringan drainase di kawasan tersebut sebenarnya sudah tersedia. Namun, masih terdapat sejumlah titik yang buntu, rusak, maupun tidak terhubung dengan baik sehingga aliran air tidak berjalan maksimal.

“Kita usulkan ke depan untuk pembenahan sistem drainase supaya air yang menggenang di rumah-rumah warga bisa tersalur ke salurannya. Tinggal dihubungkan ke sistem drainase, kemudian di belakang juga ada Sungai Pembuneng,” jelasnya.

Ia menambahkan, perbaikan tidak selalu harus dilakukan dengan membangun jaringan baru. Sejumlah saluran yang sudah ada dinilai cukup diperbaiki dan dikoneksikan kembali agar aliran air dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Selain drainase, warga juga menyampaikan persoalan kemacetan di sekitar SDN Guntung Paikat 1. Kemacetan kerap terjadi terutama saat jam penjemputan siswa karena kendaraan orang tua menumpuk di sekitar sekolah.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, muncul usulan agar saluran drainase di depan kawasan sekolah dapat ditutup atau ditata sehingga sebagian area bisa dimanfaatkan sebagai ruang parkir kendaraan tanpa mengganggu arus lalu lintas.

“Kalau pengantaran biasanya lancar, tetapi saat penjemputan terjadi kemacetan karena orang tua menunggu anaknya. Kendaraan menumpuk. Tadi diusulkan agar drainase ditutup sehingga area parkir mobil bisa lebih luas ke pinggir dan arus lalu lintas tetap berjalan,” katanya.

Aspirasi lainnya berkaitan dengan kondisi jalan. Warga mengusulkan perbaikan sejumlah ruas jalan yang belum beraspal. Namun, untuk ruas dengan ukuran relatif kecil, pemasangan paving block dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih memungkinkan.

“Masih ada jalan yang belum diaspal. Tetapi tadi mungkin memungkinkan menggunakan paving karena dari segi luasan maupun panjang dan lebarnya relatif kecil,” tutur Nurkhalis.

Persoalan penerangan jalan umum (PJU) juga turut menjadi perhatian. Sejumlah titik di lingkungan tersebut dinilai masih membutuhkan penerangan sehingga akan diusulkan untuk mendapatkan penambahan PJU.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti kondisi pepohonan yang cukup tinggi dan sebagian menutupi lampu PJU maupun berdekatan dengan kabel listrik.

Nurkhalis menegaskan, penanganannya tidak harus dengan menebang pohon, melainkan cukup dilakukan pemangkasan dan perapian secara berkala.

“Pohon-pohon di sini cukup tinggi, ada yang menutupi PJU dan ada juga yang melindungi kabel-kabel listrik. Jadi diusulkan untuk dipangkas, bukan ditebang. Ini juga untuk mengantisipasi bahaya apabila pohon atau dahannya roboh,” katanya.

Sementara itu, perhatian warga juga mulai tertuju pada rencana operasional Rumah Sakit Bhayangkara di kawasan tersebut. Kehadiran fasilitas kesehatan itu dinilai akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, namun di sisi lain juga perlu diantisipasi berbagai konsekuensi terhadap lingkungan sekitar.

Nurkhalis menyebut, jika Rumah Sakit Bhayangkara ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, masyarakat sekitar perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan aktivitas kawasan.

“Di satu sisi tentu kita punya keistimewaan karena memiliki rumah sakit di sini. Insyaallah Rumah Sakit Bhayangkara akan beroperasi tahun 2027. Tetapi di sisi lain, kita juga mengingatkan bahwa dampaknya harus diantisipasi,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya aktivitas di sekitar rumah sakit berpotensi memunculkan persoalan baru, seperti kepadatan lalu lintas, meningkatnya keramaian, tumbuhnya pedagang kaki lima (PKL), hingga rumah kos bagi pegawai dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.

Karena itu, persoalan ketertiban umum, lingkungan, serta kesiapan masyarakat perlu disinkronkan sejak awal agar keberadaan rumah sakit benar-benar memberikan manfaat tanpa menimbulkan persoalan baru.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah ketua RT di lingkungan RW 01 dan RW 02 turut hadir. Pembahasan juga diarahkan untuk menyinergikan berbagai kebutuhan masyarakat dengan kondisi lingkungan sekitar, termasuk keberadaan asrama di kawasan tersebut.

“Kita sinkronkan semuanya. Mudah-mudahan dengan forum seperti ini bisa menjadi solusi yang nyata untuk kepentingan masyarakat,” pungkas Nurkhalis.

Kegiatan reses tersebut turut dihadiri Ketua RT 03, Rustam, serta sejumlah perwakilan masyarakat setempat.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like