Kota Banjarbaru

Reses Emi Lasari Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis di Tengah Karhutla Banjarbaru

0
Anggota DPRD Banjarbaru Emi Lasari saat reses hadirkan layanan kesehatan gratis untuk masyarakat (Foto : Azmi/R9)

BANJARBARU, REPORTASE9.ID – Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Kota Banjarbaru, Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, memanfaatkan kegiatan reses untuk tidak hanya menyerap aspirasi masyarakat, tetapi juga menghadirkan layanan kesehatan secara gratis.

Kegiatan tersebut digelar di Balai Pertemuan Kelompok Tani Ngudi Rahayu, RT 40, Jalan Kasturi 2, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Rabu (26/8/2026) sore.

Dalam kegiatan itu, Emi Lasari menggandeng tim medis dari puskesmas setempat untuk memberikan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga. Layanan yang disediakan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga pemeriksaan kondisi saluran pernapasan.

Warga yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan penanganan juga mendapatkan obat-obatan. Selain itu, Emi Lasari turut membagikan masker serta vitamin, khususnya bagi anak-anak dan lansia yang menjadi kelompok rentan terhadap dampak paparan kabut asap.

Emi mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang ikut terdampak kabut asap akibat karhutla.

“Melalui kegiatan reses ini kita ingin memastikan bahwa anggota DPRD tidak hanya menyerap aspirasi, tetapi juga hadir memberikan solusi. Salah satunya dengan membagikan masker dan menghadirkan pelayanan kesehatan secara gratis,” ujarnya.

Menurutnya, paparan kabut asap berpotensi meningkatkan gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berdasarkan data laporan ISPA dari 10 puskesmas di Kota Banjarbaru selama pekan pertama hingga pekan ke-33 tahun 2026 atau per 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 24.621 kasus.

Paparan asap juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti iritasi mata, pusing, hingga gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi balita dan lansia.

“Kelompok rentan seperti balita dan lansia perlu mendapat perhatian khusus, apalagi mereka yang masih sering beraktivitas di luar ruangan,” katanya.

Emi menegaskan, situasi karhutla saat ini menjadi persoalan bersama sehingga seluruh sumber daya perlu dimaksimalkan untuk menghadapi dampaknya, termasuk terhadap kesehatan masyarakat.

“Karhutla ini sudah menjadi perhatian serius karena dampaknya bukan hanya dirasakan para relawan yang berada di lapangan, tetapi juga masyarakat yang tinggal di kawasan dengan tingkat kebakaran cukup tinggi, khususnya di Kecamatan Landasan Ulin,” jelasnya.

Ia menyebut kegiatan reses kali ini memiliki konsep berbeda dibandingkan reses sebelumnya. Selain mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat, kegiatan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan mendesak warga di tengah kondisi karhutla.

“Di tengah kondisi karhutla, reses tidak hanya menjadi momentum untuk mendengarkan aspirasi. Kita juga harus hadir memberikan solusi atas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Saat ini, bagaimana masyarakat bisa kita dampingi untuk bersama-sama melewati kondisi karhutla yang cukup berat ini,” tuturnya.

oplus_34

Sementara itu, Ketua RT 40, Hendri Wibowo, menyampaikan sejumlah usulan yang disampaikan kelompok tani kepada Emi Lasari dalam kegiatan reses tersebut.

Salah satu aspirasi utama yakni permintaan pengerasan jalan utama yang menjadi akses para petani menuju lahan perkebunan.

“Kalau musim hujan, jalan di sini licin dan becek. Jalan ini juga belum pernah dilakukan pengerasan. Selain itu, kami mengusulkan bantuan tenda untuk kegiatan kelompok tani,” ungkap Hendri.

Tak hanya persoalan infrastruktur, warga juga menyampaikan kebutuhan peralatan penanggulangan karhutla. Mengingat kawasan tersebut masuk dalam wilayah yang rawan terdampak kebakaran, masyarakat berharap adanya dukungan sarana pemadam kebakaran.

“Karena saat ini terjadi bencana karhutla dan wilayah kami masuk Ring 1, tentunya kami ingin memiliki alat pemadam kebakaran dan unit tangki agar bisa melakukan pemadaman secara mandiri,” katanya.

Hendri menambahkan, masyarakat setempat juga telah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Namun, keberadaan kelompok tersebut masih membutuhkan dukungan peralatan agar dapat bergerak lebih optimal ketika terjadi kebakaran.

“MPA sudah terbentuk, sehingga kami sangat memerlukan peralatan dan mesin pemadam, termasuk alat pelindung diri (APD),” pungkasnya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like