Kabupaten Banjar

Kasus ISPA di Kabupaten Banjar Meningkat, Tercatat 13.996 Kasus hingga Oktober 2026

0

BANJAR, REPORTASE9.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 13.996 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode minggu ke-27 hingga minggu ke-40 tahun 2026. Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kabupaten Banjar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Mariana mengatakan, data tersebut merupakan hasil penarikan laporan dari 25 puskesmas di Kabupaten Banjar hingga minggu ke-40.

“Dari data yang sudah kami tarik dari minggu ke-27 sampai minggu ke-40, ada di angka 13.996 kasus,” ujarnya saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan data tersebut, wilayah kerja Puskesmas Martapura I mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 1.537 kasus, disusul Puskesmas Kertak Hanyar sebanyak 1.392 kasus. Selain kedua wilayah tersebut, kasus ISPA juga tercatat cukup tinggi di Kecamatan Sungai Tabuk. Sementara itu, angka kasus di wilayah Kecamatan Gambut tidak setinggi Kertak Hanyar, meskipun kedua kecamatan tersebut berdekatan.

Ia juga menjelaskan, tingginya angka kasus di wilayah kerja Puskesmas Martapura I berkaitan dengan jumlah penduduk yang lebih besar dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.

Ia menegaskan, angka tersebut merupakan jumlah kunjungan masyarakat yang datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan, bukan gambaran keseluruhan warga yang mengalami ISPA di lingkungan tempat tinggalnya.

“Ini adalah kunjungan yang datang ke layanan untuk melakukan pengobatan. Itulah angka yang diinput oleh teman-teman puskesmas,” jelasnya.

Dari kelompok usia penderita, masyarakat dewasa mendominasi dengan persentase sekitar 40 persen dari keseluruhan data. Sementara itu, kelompok anak-anak tercatat sekitar 16 persen.

Ia juga menyebutkan, jumlah kasus ISPA mengalami peningkatan sekitar 25 persen dibandingkan tahun 2025. Sementara itu, penambahan kasus ISPA rata-rata mencapai 6 persen setiap minggu.

Meski jumlah kasus cukup tinggi, hingga saat ini Dinkes Banjar belum menerima laporan adanya pasien yang mengalami perburukan dari ISPA sedang menjadi ISPA berat.

Ia menerangkan, data yang tercatat saat ini merupakan kasus ISPA sedang. Adapun ISPA berat merujuk pada kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk perawatan inap.

“Kalau kita mengatakan ISPA berat, berarti itu artinya yang sampai dirawat inap. Sedangkan data yang terlapor ke kita belum sampai ke situ,” terangnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Banjar melalui puskesmas telah melakukan pembagian masker kepada kelompok masyarakat berisiko, seperti lanjut usia (lansia) dan anak-anak. Petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah untuk meminimalkan paparan asap. Selain itu, kunjungan petugas kesehatan ke rumah warga dapat menjadi prioritas apabila terdapat laporan mengenai masyarakat yang sakit dan tidak mampu mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia juga mengimbau masyarakat agar melaporkan kepada petugas kesehatan apabila menemukan warga yang mengalami gangguan pernapasan, terutama jika kondisinya membutuhkan penanganan segera. Menurutnya, laporan dari masyarakat diperlukan agar petugas dapat mengetahui kondisi warga yang sakit dan menentukan tindak lanjut pelayanan kesehatan yang diperlukan.

Dengan meningkatnya kasus ISPA di Kabupaten Banjar, masyarakat diimbau untuk terus menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta kelompok yang rentan mengalami gangguan pernapasan.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like