BANJAR, REPORTASE9.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar masih menjadi perhatian, menyusul tingginya laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta penyakit diare di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar, Noripansyah menyebutkan, jumlah kasus ISPA yang terlaporkan telah mencapai 15.178 kasus. Angka tersebut menunjukkan kasus ISPA masih menjadi perhatian di tengah kondisi karhutla yang belum sepenuhnya mereda.
“Dampak karhutla masih terasa hingga sekarang. Meskipun kemarin sempat turun hujan, jumlah kasus ISPA yang terlaporkan kepada kami sudah mencapai 15.178 kasus. Artinya, angka ini masih cukup tinggi dan menunjukkan kasus ISPA masih mengalami peningkatan,” ujarnya saat diwawancarai usai mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla dan Kekeringan, Senin (26/10/2026).
Meski hujan sempat turun di sejumlah wilayah, kondisi tersebut belum serta-merta menghilangkan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
Selain ISPA, kasus diare juga menjadi perhatian Dinkes Banjar. Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi tersebut adalah masih adanya masyarakat yang mengalami keterbatasan akses air bersih.
“Diare juga masih, karena memang salah satunya mungkin karena kekurangan air bersih, jadi masyarakat kita mungkin terganggu dengan distribusi itu,” katanya.
Menurutnya, meskipun BPBD bersama sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) telah berupaya mendistribusikan air bersih, masih terdapat beberapa wilayah yang belum terjangkau secara optimal.
“Walaupun BPBD dan tim lainnya juga bahu-membahu dengan beberapa SKPD sudah membagikan air bersih, memang ada beberapa daerah yang masih belum terjangkau air bersih,” jelasnya.
Keterbatasan akses air bersih dapat memengaruhi kebersihan dan sanitasi masyarakat sehingga meningkatkan risiko diare maupun penyakit pencernaan lainnya.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla, Dinkes Banjar juga telah menambah pengadaan masker dan mulai mendistribusikannya kepada masyarakat terdampak.
“Sudah ditambahkan dan sudah kita belikan juga. Alhamdulillah, masyarakat kita mulai sadar terhadap penggunaan masker,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, pembagian masker tidak hanya dilakukan oleh Dinkes, tetapi turut melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan, duta wisata, dan duta kesehatan.
Distribusi masker dilakukan melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, puskesmas pembantu, hingga pos kesehatan desa (poskesdes), agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Terkait penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), pihak Dinkes menyampaikan masih menunggu proses penggunaan anggaran tersebut.
Melalui berbagai upaya tersebut, Dinkes Banjar berharap perlindungan kesehatan masyarakat di tengah dampak karhutla dan kekeringan dapat terus ditingkatkan, terutama bagi warga yang berada di wilayah terdampak.










Comments