BANJAR, REPORTASE9.ID – Relawan BUSER 690 mengeluhkan kendala dalam menyuplai air untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar. Kondisi tersebut semakin sulit karena sejumlah sumber air mulai mengering akibat kemarau, sementara titik pengambilan air yang mudah dijangkau masih terbatas.
Untuk mendapatkan air, relawan harus mengambil dari sumur yang dalam. Saat mengisi tiga hingga empat unit tangki, proses menaikkan air membutuhkan waktu sekitar dua jam. Bahkan, apabila air yang diperoleh dalam kondisi kotor, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai empat jam. Kondisi tersebut menjadi kendala di lapangan karena kebutuhan air untuk pemadaman harus dipenuhi secepat mungkin.
Menanggapi keluhan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea mengatakan, kebutuhan sarana pendukung penyuplai air menjadi salah satu hal yang akan diperhatikan pemerintah daerah.
Yudi menjelaskan, usulan pembangunan hydrant sebenarnya sudah masuk dalam anggaran perubahan. Namun, pelaksanaannya diperkirakan baru dapat dilakukan pada akhir tahun.
“Hydrant ini baru kita usulkan di anggaran perubahan. Kemungkinan pelaksanaannya di akhir tahun. Namun, melihat kondisi karhutla yang terjadi saat ini, kebutuhan tersebut tetap menjadi perhatian kami,” ujarnya usai rapat gabungan Komisi DPRD Banjar, Rabu (07/10/2026).
Menurut Yudi, berbagai kendala yang ditemukan selama penanganan karhutla, termasuk persoalan ketersediaan air, akan menjadi bahan evaluasi dan catatan pemerintah dalam penganggaran berikutnya.
“Banyak masukan yang kita terima dari kejadian karhutla yang berlangsung. Ini Insya Allah menjadi catatan kami dalam penganggaran, agar kebutuhan seperti ini bisa kita perhatikan ke depannya,” tambahnya.
Ia berharap, penyediaan sarana pendukung seperti hydrant nantinya dapat mempermudah relawan mendapatkan pasokan air ketika melakukan pemadaman di wilayah yang sulit menjangkau sumber air.

















Comments